Tulisan Singkat Dan Sederhana Menyikapi Permohonan Peninjauan Kembali (PK)

swarabandung.netBanceuy – Ada seorang Terpidana (saat itu Gubernur DKI) yang mempergunakan hak-nya sebagai Warga Negara untuk mengajukan permohonan Peninjauan Kembali (PK) kepada Mahkamah Agung (MA) .

Terhadap Putusan Pengadilan yang menyatakan Terdakwa bersalah telah melakukan “Penistaan Agama”. Terhadap agama mayoritas dan menjatuhkan hukuman penjara selama 2 (dua) tahun penjara.

Permohonan PK diajukan karena ditemukan bukti baru (novum) dalam perkara yang telah diputus oleh Pengadilan terhadap Pemohon/Terpidana. Yang pada saat itu selaku Tersangka, upaya hukum yang ditempuh Terpidana/Pemohon merupakan upaya hukum “Luar Biasa” dan ketentuannya diatur oleh undang – undang.

Satu Sisi Peninjauan Kembali (PK)

Ada sekelompok masyarakat yang memaksakan kehendaknya sebagai Warga Negara dengan mengatasnamakan pembela agama untuk “MENOLAK” pengajuan permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang menjadi hak Terpidana sebagaimana diatur oleh undang – undang. Penolakan tersebut merupakan “pemaksaan kehendak” yang tidak diatur dalam undang – undang sehingga pelaksanaannya dilakukan dengan cara mengerahkan massa ke Pengadilan untuk memberi tekanan psikologis kepada pengadilan / Hakim yang menangani perkara.¬† Seperti halnya pada saat sidang perkara “Penistaan Agama” digelar sampai dengan sidang putusan yang putusannya menyatakan terdakwa bersalah dan divonis 2 (dua) th penjara.

Sisi Lain Peninjauan Kembali (PK)

Ada sekelompok masyarakat sebagai Warga Negara yang mempercayakan permasalahan hukum diatas untuk diadili dan diselesaikan berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku. Menghormati hak untuk mengajukan permohonan Peninjauan Kembali (PK) merupakan Hak Terpidana yang tidak mengada-ada dan diatur oleh undang – undang. Sehingga apapun putusannya tanpa prasangka buruk harus diterima oleh semua pihak sebagai “putusan hukum” yang mengikat.

Kalaupun putusan tersebut dirasa tidak Adil dan kalaupun iya orang tersebut telah menista agama. Kenapa harus repot-repot mengerahkan massa ke pengadilan. Bukannya sebagai orang yang beragama sebaiknya mendoakan agar yang bersangkutan diberikan hidayah oleh Allah SWT serta diampuni dosa-dosanya. Kecuali “ADA MOTIF / KEPENTINGAN LAIN DI BALIK SEMUA INI”.

Tuhan memiliki caranya sendiri untuk menghukum orang yang menista agama. Yang telah diturunkannya melalui Nabi/Rasul sebagai manusia terpilih (kalo masih percaya adanya Tuhan).

Dari dua sisi tersebut untuk kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam rangka menjaga keutuhan NKRI kita mau ambil posisi yang mana?

Penulis: Dandan Kusdani.SH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *