Religius

Berita informatif terkini seputar kota Bandung dengan mengangkat topik mengenai religius. Yuk segera baca berita terbaru di swara bandung!

Oded Subling Di Kelurahan Cimencrang Sambil Buka ATM Beras

Swara Bandung.Net.Gede Bage- Kunjungan Wakil Wali Kota Bandung Oded.M.Daniali ke Mesjid Abu Bakar Ash-Shiddiq Komp. Griya Cempaka Arum Rw.07 Kel.Cimincrang Kec.Gedebage. Minggu (12/8/2018) .

Dalam Kunjungan nya Oded bukan hanya dalam Giat Subling (Subuh keliling) tetapi kali ini sambil menyalurkan  Program  Perdana ATM Beras untuk masyarakat ,

Adapun tiap-tiap warga pemegang Kartu ATM beras mendapatkan beras sebanyak 10 Kg/bulan dan tiap bulan boleh pengambilan sebanyak 4 kali (Sebanyak 2,5 Kg/orang).

” Program Perdana ATM beras ini mudah –  mudahan bermanpaat buat masyarakat di sini “ujar nya.

Kegiatan ini di hadiri
Camat Gedebage Drs.Bambang Sukardi,M.Si
– Ketua MUI Kec.Gedebage Ustdz Herdi , Lurah Cimincrang Dra.Fuji Rahayuningtyas ,Seklur Kel.Cimincrang Rusdiant dianto,Spd. K asi-pem Kel.Cimincrang  Bahrum Ramdlan,SH
Kasi kesos kel.Cimincrang Bpk Andri
LPM kel.Cimincrang yg diwakili oleh Asep.
Wakil Ketua DKM Mesjid Abu Bakar Ash-Shiddiq Ustdz M.Baihaqi.
Dan Ketua Rw 07 Kel.Cimincrang Bpk Ricko.

Camat Gedebage dalam sambutannya menyampaikan ” Sangat menyambut baik kegiatan subuh keliling serta merasa bahagia selain beribadah s juga olat subuh bersama masyarakat juga merasa terbantu dengan program ATM Beras yang di gelar Wakil Wali Kota ” Ucap nya.  (Kim .kel.Cimencrang/Asep).

 

Kampung Toleransi Jamika, Bukti Keberagaman Indah

swarabandung.netJamika – Kota Bandung adalah kota heterogen. Beragam suku, ras, budaya, dan agama terdapat di Kota Bandung. Selain itu, Kota Bandung juga memiliki beragam komunitas. Sehingga tak sedikit, dalam sebuah kawasan terdapat beragam kelompok, suku, hingga rumah beribadatan yang berbeda.

Hal itu juga yang terjadi di RW 04 Kelurahan Jamika Kecamatan Bojongloa Kaler Kota Bandung. Namun dengan perbedaan tersebut, ternyata semakin mempererat persaudaraan antar warga. Oleh karenanya, pada pada 20 Agustus tahun 2017 lalu, Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil menetapkan kawasan tersebut sebagai Kampung Toleransi.

Ditemui Oleh Humas Kota Bandung, Ketua RW 04 Kelurahan Jamika Kecamatan Bojongloa Kaler, Dayat Permana mengatakan bahwa di wilayahnya memang  mayoritas adalah muslim tapi tempat ibadah lain juga banyak yang berdampingan.

“Di sini ada enam gereja, empat wihara, dan dua masjid dari 693 KK. Warga muslim di 16 rukun tetangga  paling mendominasi, berjumlah 1.262. Setelah itu, Kristen, Katolik, dan Hindu,” papar Dayat, Rabu (28/2/2018).

Dengan perbedaan itu, masyarakat bisa idup berdampingan dan menganggap saling bersaudara.

“Jika Ramadhan tiba, masyarakat non muslim tak ketinggalan ikut membantu membersihkan masjid atau sekadar membagikan takjil,” Kata Ketua Forum Toleransi Beragama, Dede Taryono.

Keberagaman Dalam Kampung Toleransi

Dede juga menambahkan, di Kampung Toleransi setiap warga bebas melakukan kegiatan keagamaan sesuai keyakinan tanpa ada gangguan.

“Setiap warga tidak pernah menyakiti satu sama lain dan tidak pernah memaksakan kehendak satu golongan untuk dituruti oleh golongan lain, ini yang mendasari kami selalu solid,” jelasnya.

Ditemui di saat yang sama, Camat Bojongloa Kaler, Eka Taofik Hidayat mengatakan, Kampung Toleransi  sudah dikenal sangat bertoleransi baik di bidang agama dan bidang lainnya. Ini telah terjadi sejak lama.

“Alhamdulillah tidak pernah ada yang bentrok,” katanya.

Ia mengatakan, sejak sebelum dideklarasikan, wilayah ini selalu  mengadakan kegiatan bersama lintas umat beragama. Mulai dari kerja bakti, hingga perayaan hari besar keagamaan.

“Setelah dideklarasikan,  kami lebih  intens mengadakan pertemuan-pertemuan. Karena kami juga sudah membentuk forum juga yang anggotanya dari beragam agama,” jelas Eka.

“jadi semua tokoh agama lain pun bisa datang dan berpartisipasi bahkan warga juga akan berbaur dengan semua lapisan agama,” lanjut Eka.

Ke depannya Eka berharap, ada banyak tempat untuk kegiatan bagi semua umat beragama di RW 04. Hal itu agar warga lebih bisa sering berinteraksi dan mempererat persaudaraan.

Tulisan Singkat Dan Sederhana Menyikapi Permohonan Peninjauan Kembali (PK)

swarabandung.netBanceuy – Ada seorang Terpidana (saat itu Gubernur DKI) yang mempergunakan hak-nya sebagai Warga Negara untuk mengajukan permohonan Peninjauan Kembali (PK) kepada Mahkamah Agung (MA) .

Terhadap Putusan Pengadilan yang menyatakan Terdakwa bersalah telah melakukan “Penistaan Agama”. Terhadap agama mayoritas dan menjatuhkan hukuman penjara selama 2 (dua) tahun penjara.

Permohonan PK diajukan karena ditemukan bukti baru (novum) dalam perkara yang telah diputus oleh Pengadilan terhadap Pemohon/Terpidana. Yang pada saat itu selaku Tersangka, upaya hukum yang ditempuh Terpidana/Pemohon merupakan upaya hukum “Luar Biasa” dan ketentuannya diatur oleh undang – undang.

Satu Sisi Peninjauan Kembali (PK)

Ada sekelompok masyarakat yang memaksakan kehendaknya sebagai Warga Negara dengan mengatasnamakan pembela agama untuk “MENOLAK” pengajuan permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang menjadi hak Terpidana sebagaimana diatur oleh undang – undang. Penolakan tersebut merupakan “pemaksaan kehendak” yang tidak diatur dalam undang – undang sehingga pelaksanaannya dilakukan dengan cara mengerahkan massa ke Pengadilan untuk memberi tekanan psikologis kepada pengadilan / Hakim yang menangani perkara.  Seperti halnya pada saat sidang perkara “Penistaan Agama” digelar sampai dengan sidang putusan yang putusannya menyatakan terdakwa bersalah dan divonis 2 (dua) th penjara.

Sisi Lain Peninjauan Kembali (PK)

Ada sekelompok masyarakat sebagai Warga Negara yang mempercayakan permasalahan hukum diatas untuk diadili dan diselesaikan berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku. Menghormati hak untuk mengajukan permohonan Peninjauan Kembali (PK) merupakan Hak Terpidana yang tidak mengada-ada dan diatur oleh undang – undang. Sehingga apapun putusannya tanpa prasangka buruk harus diterima oleh semua pihak sebagai “putusan hukum” yang mengikat.

Kalaupun putusan tersebut dirasa tidak Adil dan kalaupun iya orang tersebut telah menista agama. Kenapa harus repot-repot mengerahkan massa ke pengadilan. Bukannya sebagai orang yang beragama sebaiknya mendoakan agar yang bersangkutan diberikan hidayah oleh Allah SWT serta diampuni dosa-dosanya. Kecuali “ADA MOTIF / KEPENTINGAN LAIN DI BALIK SEMUA INI”.

Tuhan memiliki caranya sendiri untuk menghukum orang yang menista agama. Yang telah diturunkannya melalui Nabi/Rasul sebagai manusia terpilih (kalo masih percaya adanya Tuhan).

Dari dua sisi tersebut untuk kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam rangka menjaga keutuhan NKRI kita mau ambil posisi yang mana?

Penulis: Dandan Kusdani.SH